Pendidikan di Masa Pandemi
Pada pertengahan bulan November 2019 virus Corona atau virus baru ini muncul di negara China, bertetapan di daerah Wuhan. Virus Corona telah menyebar luas keseluruh penjuru dunia dari negara satu ke negara lainnya (Pandemi). Virus ini menyebar dengan pesat lewat penyebaran dari manusia yang terjangkit ke manusia lainnya dengan penyebaran lewat udara sehingga virus ini mudah menyebar dan mudah masuk ketubuh manusia.
Di negara Indonesia sendiri Virus Corona
awal mula munculnya pada pertengahan bulan Februari 2020 di daerah Depok dengan
diketahui 2 orang perempuan yang terinfeksi virus tersebut setelah malakukan
kontak dengan seorang warga negara Jepang yang berdomisili di Malaysia yang
sebelumnya sempat bertemu di Indonesia.
Virus corona sampai sekarang telah
menyebar luas di Indonesia, melansinir laman Covid19.go.id pada (17/2/2021),
dengan kasus positif mencapai 9.687, sehingga total menjadi 1.243.646.
Sementara itu, jumlah yang sembuh dari kasus corona bertambah 8.002 orang
sehingga menjadi sebanyak 1.047.676 orang. Sedangkan jumlah orang yang
meninggal akibat virus Corona di Indonesia bertambah 192 orang menjadi sebanyak
33.788 orang.
Dengan adanya virus Corona, negara
Indonesia sendiri sangat sulit dalam menangani virus ini, walaupun pemerintah
Indonesia sudah menangani kasus Corona dengan secara maksimal, baik dari segi kesehatan
dan dari segi kebijakan (social distencing), agar supaya virus Corona tidak
menyebar luas di Indonesia. Akan tetapi ketika kita melihat dari data di atas
kasus yang terpapar virus Corona semakin hari semakin bertambah sehingga agak
sulit untuk segera menghilangkan virus ini. Ketika virus Corona semakin hari
semakin bertambah kasusnya maka bisa kita lihat dampaknya di bidang ekonomi,
sosial, politik, dan bahkan di bidang pendidikan. Dampak dari virus corona di
bidang pendidikan sangat negatif, karena masyarakat indonesia khususnya pelajar
(siswa/siswi) dari tingkat TK, SD, SMP, SMA bahkan Perkuliahan dipaksa untuk
belajar di rumah atau sering disebut secara daring.
Sejumlah siswa SMA mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam jaringan
(daring) di area persawahan Bassaran, Desa Rante Mario, Kabupaten Enrekang,
Sulawesi Selatan, Senin (3/8). Foto: Arnas Padda/ANTARA FOTO
Ketika saya melihat pendidikan di tengah
virus corona, negara Indonesia masih belum siap untuk melaksanakan pendidikan
dengan baik, masih banyak masyarakat Indonesia khususnya pelajar dan siswa yang
tidak bisa belajar seara daring. Karena faktor handphone dan internet yang
sangat sulit untuk didapatkan. Apalagi ketika kita berbicara pelajar yang ada
di desa-desa atau pelosok-pelosok negeri ini yang sudah kita ketahui bersama
bahwa di pelosok-pelosok desa untuk jaringan internet yang didapat agak susah
karena signal yang tidak memadai.
ADVERTISEMENT
Dan ketika saya berpikir dan melihat
pelajar yang ada di pelosok-pelosok desa seharusnya mereka belajar secara tatap
muka atau belajar secara langsung dengan pengajarnya (guru), karena di
daerah-daerah pelosok untuk virus corona sendiri sampai sekarang tidak
ditemukan atau bisa dibilang zona hijau untuk di pedesaan.
Melihat pendidikan yang ada di
pelosok-pelosok desa yang dipaksa untuk melakukan secara daring menurut saya
agak kurang tepat, pertama ketika pelajar yang ada di desa dipaksa untuk
belajar secara daring maka akan lebih sulit untuk belajarnya, dan tidak tepat
juga ketika melihat belajar secara daring tidak akan efektik jika diterapkan di
desa-desa yang sulit untuk mendaptkan signal.
Sisi negatif dari pendidikan daring ini
sendiri tidak akan menemukan pendidikan pendekatan emosional secara langsung
dengan gurunya, karena murid dan guru tidak bertatapan muka secara langsung,
bahkan ketika anak-anak TK dan SD sebagai regenerasi muda yang seharusnya
mendapatkan pelajaran dengan baik dari awal sampai akhir, justru sekarang
sebaliknya tidak dapat pelajaran dengan baik karena sistem pendidikan yang
diterapakan di tengah virus corona harus secara daring.
Maka ketika sistem pendidikan di Indonesia
harus terus dijalankan secara daring maka akan berdampak pada psikologi
anak-anak khususnya siswa/siswi TK dan SD karena mereka tidak mendapatkan
pendidikan etika dan moral dari gurunya secara langsung.
penulis : Marna Hidayat
Mahasiswa FISIP UMJ, Kader IMM FISIP UMJ

Komentar
Posting Komentar